Wali Kelasku, Maafkan Aku

Juli 4, 2007 at 4:56 pm 4 komentar

Tahun 1992 saya ditempatkan di kelas  III Fisika dua. Atas kepercayaan teman-teman saya ditunjuk menjadi Ketua Kelas. Adapun yang menjadi Wali Kelas kami adalah Bapak Abd. Rahim yang juga mengajar kami pada Mata Pelajaran Fisika. Sebagai Ketua Kelas, saya dituntut untuk membantu wali kelas dalam hal kelancaran proses belajar mengajar, menjaga ketertiban dan keamanan dalam kelas, memelihara keindahan dan kenyamanan kelas, dan berbagai tugas lainnya.     

Hari itu usai mengajar, Pak Rahim, panggilan akrab wali kelas kami, memanggil saya kemejanya. “ Nak, tolong carikan gambar wakil presiden kita, tidak bagus dilihat kalau kelas kita, yang ada hanya gambar presiden dan gambar burung garudanya ” ujar beliau dengan suara datar dan tenang kepada saya.

Lalu dengan lugas saya pun  menjawab “Baik Pak, kebetulan dana kas kelas kita masih ada dan cukup untuk membeli gambar wakil presiden”. Hari berganti,seminggu berlalu. Gambar wakil presiden lupa saya beli. Usai mengajar, Pak Rahim kembali memanggil saya. Tetap dengan suara datarnya,  beliau berkata “ Nak, tolong carikan gambar wakil presiden kita, tidak bagus dilihat kalau kelas kita, yang ada hanya gambar presiden dan gambar burung garudanya ”. Kembali dengan lugas saya menjawab, “ Baik Pak, kemarin saya lupa membelinya”. 

Kembali, hari terus berganti, seminggu pun berlalu. Anjuran untuk untuk membeli gambar wakil presiden saya abaikan lagi.  Saat usai mengajar, Pak Rahim kembali memanggil saya. Sikap sabar dan tetap dengan suara datarnya, serta tanpa bosan-bosannya, kembali beliau berkata kepada saya dengan kalimat yang persis sama “ Nak, tolong carikan gambar wakil presiden kita, tidak bagus dilihat kalau kelas kita yang ada hanya gambar presiden dan gambar burung garudanya ”. 

Dengan tertunduk malu, saya menjawab dengan suara yang hampir tidak terdengar oleh beliau, “ Saya janji Pak, besok gambar wakil presiden sudah ada di kelas kita.

 

Ah….. entah apa yang ada pada diri saya pada saat itu, lagi-lagi saya tidak membeli gambar wakil presiden. Usai belajar Fisika, saya berkata dalam hati, pasti saya akan dipanggil lagi.

 

Ternyata perkiraan saya salah. Beliau menghampiri meja saya. “Nak, saat istirahat nanti, tolong temui saya di ruang guru” Kata beliau sesaat sebelum meninggalkan kelas. Saya terheran, Tidak bisa berkata apa-apa. Beberapa pertanyaan berkecamuk di kepala saya. Kenapa pernya-taan beliau beda dengan kemarin-kemarin? akankah beliau memarahi saya ? dihukumkah saya ? dan beribu macam pertanyaan lainnya.

Usai lonceng tanda istirahat berbunyi, saya langsung ke ruang guru menuju meja Pak Rahim.

 

Setelah mengucapkan salam,  beliau langsung berkata “ Nak, cabut saja gambar presiden & gambar burung garuda yang ada di kelas kita. Mungkin akan lebih baik kelihatan dibanding tidak ada gambar wakil presidennya”. Wow, saya suprise dengan pernyataan beliau, sayapun berkata, “baik pak.”. Setelah itu beliaupun menyuruh saya kembali ke kelas. Dasar tidak tahu bahasa sindiran, dengan serta merta saya langsung ke kelas untuk mencabut gambar presiden dan burung garuda tersebut. Al hasil, hingga penamatan sekolah, kelas kami tidak ada gambar presiden dan wakil presidennya.

 

Kini, setelah 15 tahun berlalu, saya  menyadari bahwa kata-kata Pak Rahim di ruang kelas bukan bermaksud untuk benar-benar meyuruh saya mencabut gambar-gambar tersebut, akan tetapi mengajak saya berfikir bahwa jauh lebih baik jikalau kelas kami dihiasi oleh gambar presiden dan wakil presiden dibanding dengan kelas yang kosong melompong tanpa gambar- gambar.  

                        

Sejak tamat dari SMAnSA  tahun 1993 hingga sekarang, tidak pernah sekalipun saya

bertemu lagi dengan beliau. Saya tidak tahu lagi bagaimana kabarnya. Saya sangat

ingin bertemu dengannya untuk meminta maaf. Karena saya telah menjadi anak yang tidak patuh terhadap orang tuanya. Mudah-mudahan beliau masih sehat dan segar bugar. Saya ingin mencium tangan-nya, merangkulnya dan  berbagi cerita dengannya. Kejadian tersebut memberi saya pelajaran berharga untuk tidak memandang remeh danmenggampangkan segala sesuatunya.      Selain itu saya sangat ingin belajar dengan sikap kesabaran, ketenangan dan kearifan beliau dalam menghadapi anak-anaknya. Bagi pembaca ROMANSA yang me- ngetahui keberadaan beliau, dapat memberi informasi kepada saya melalui redaksi ROMANSA.  Kepada teman-teman sekelas III Fisiska 2, saya rindu dengan canda kalian, rindu dengan kecuekan kalian, dan rindu akan segalanya tentang kalian. Yuk kita belajar lagi di kelas kita III Fisika 2. (*) (ROmansa dulu adalah nama awal mulanya majalah  IKASMANSA-redakasi)

Kiriman: Akbar Mangenre Kurusi (alumni smansa 93)

Entry filed under: paraikatte. Tags: .

PRofil Singkat sang ketua IKA SMANSA Siapa yang tak kenal Herman Hading

4 Komentar Add your own

  • 1. rusle  |  Juli 5, 2007 pukul 1:35 am

    iya,
    gmana kabarnya pak Rahim? masihkah sehat selalu?
    salam buat beliau…

    Balas
  • 2. Prayudy  |  Agustus 12, 2007 pukul 8:09 am

    Ahaaa…iya saya pernah juga di ajar beliau …memang beliau mengajar fisika …Orangnya agak kalem dan suaranya aduh lembut banget sampe kadang ngga kedengaran …Ada yg tahu Ibu ttg Ibu Titik ngga ya ?..Beliau guru di IPS jaman dulu sih …kalo ada info kasih tahu ya …

    Balas
  • 3. nirma  |  Agustus 14, 2007 pukul 11:52 am

    Yang saya ingat waktu di kelas 2 Fis 4, saya duduk di depan, terus ada yang berteriak dari belakang “Pak, si…….(lupa)…tidur !!!!!!!!!!”,
    kemudian Pak Rahim yang lagi menerangkan di depan papan tulis, dengan sabarnya balik dan menjawab “Jangan meki’ pale’ ribut Nak, biar temanta’ tidak bangun…!”.
    Hmm..waktu itu sih, saya anggap lucu, …:), tapi sekarang…hisk..hisk…begitu sabarnya engkau Bapak Guruku….

    Yang saya ingat lagi, saat-saat les di rumah beliau di Perumnas sana, ternyata Bapak Rahim adalah tetanggaku dulu waktu masih kecil, jaman SD…
    So, agak2 rajin pergi les, selain utk belajar gang…:)…..juga utk reuni dengan teman2 kecil…jadi kadang bolos sedikit2ji…..:P

    Balas
  • 4. dety  |  Desember 3, 2007 pukul 3:10 pm

    Bapak ini kalo ndak salah wali kelasku di 2 Fis 3. Satu kenangan yang paling tidak bisa saya lupa itu waktu saya sudah naik kelas 3 pas jam pelajaran agama di mushalla. Karena ada yang lupa saya balik ke kelas dulu buat ambil, eh pas lewat depan lab fisika ternyata anak kelas 2 yang diajar Pak Rahim lagi praktikum..tiba-tiba..(sok serem..:D) saya di panggil sama Pak Rahim disuruh masuk ke lab karena dipikirnya saya lagi bolos..saya mati-matian bilang kalo saya sudah naik kelas 3 trus lagi belajar agama, si bapak tidak percaya (kayanya yang diingatnya saya masih kelas 2) karena sudah tertahan lama, saya bo’ong dikit (sori pak) kalo ntar saya masuk abis ambil buku..baru deh saya diijinkan lewat. Agak jauh dikit..saya ngacir saja ke mushalla…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


TANGGALAN

Juli 2007
S S R K J S M
« Mei   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

PENGUNJUNG

  • 44,540 hits

Musikku


%d blogger menyukai ini: