HALAL BI HALAL IKA SMAnSA MAKASSAR DAN PENGUKUHAN PENGURUS TAMATAN

GRAHA PENA MAKASSAR, 10-10-08

 

Sambutan Gubernur Sulsel DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH

Sambutan Gubernur Sulsel DR. H. Syahrul Yasin Limpo, SH, M.Si, MH

 

Pengukuhan Pengurus Tamatan Oleh Ketua Umum PP IKA SMAnSA Makassar, Ir. H. Agus Arifin Nu'mang, MS

Pengukuhan Pengurus Tamatan Oleh Ketua Umum PP IKA SMAnSA Makassar, Ir. H. Agus Arifin Nu

 

Mau lihat foto-foto yang lain bagaimana kemeriahan acara ini ?

silahkan ke halaman KEGIATAN PENGURUS 

 

   

Oktober 15, 2008 at 2:46 am 1 komentar

PENGURUS PUSAT IKA SMAnSA MAKASSAR

September 18, 2008 at 2:11 am 1 komentar

KEGIATAN TAMATAN 86

HALAL BI HALAL

ACARA : BUKA PUASA BERSAMA

WAKTU : 2 SEPT 2008

TEMPAT : JL. H. BAU 16 MAKASSAR (TUAN RUMAH : LISA KALLA)

GAMBAR :

September 16, 2008 at 3:36 am Tinggalkan komentar

KEGIATAN TAMATAN 93

ACARA : BUKA PUASA BERSAMA

WAKTU  : 6 september 2008

TEMPAT : PHOENAM (BOULEVARD)

GAMBAR :

September 16, 2008 at 3:02 am 1 komentar

JELANG RAMADHAN TAMATAN 81

ACARA : DZKIR BERSAMA IKA SMAnSA MAKASSAR

WAKTU : 30 AGT 2008

TEMPAT : MASJID NUR ILHAM SMANSA 81 (Rusunawa Tanjung)

GAMBAR :

September 16, 2008 at 2:19 am Tinggalkan komentar

alumni smansa 86 akan reuni

Tulisan ini kami ambil dari milis smansa BWK53@yahoogroups.com (klik disini)

di posting oleh Sdr. Umar Mansyur seorang alumni smansa tahun 86

Bagi pembaca yang angkatan 86 atau memiliki kolega, sanak saudara, rekan alumni smansa 86 (penyebutan tahun kelulusan) mohon di forwardkan berita ini. Terima Kasih. Moderator. (divisi Infokom. Noer BM)

—————

Ass.Al.Wr.Wb. & Selamat Malam,
Tak terasa memasuki 22 tahun kita meninggalkan SMANSA dan diumur kita para alumni 86 (IPA-IPS-BHS) yang rata-rata 40 tahun merupakan momen yang sangat tepat untuk kembali merajuk tali silaturrahim yang secara parsial (hanya IPA/IPS/BHS saja atau bahkan perkelas saja atau kelompok2 kecil saja yg masih berdomisili sekota misalnya) dan Insya Allah masih tetap ada dan tidak pernah hilang, tapi secara universal masih perlu ditumbuhkembangkan kembali walaupun telah menyebar di seantero dunia.
Heterogenitas di antara kita-kita alumni, baik dari kelas jurusan di SMA, pekerjaan, profesi, alumni-alumni sekolah setelah SMA (PT dan sejenisnya), atau bahkan beberapa alumni yg masih perlu untuk kita bantu dari aspek sosial dan ekonomi misalnya (mungkin saja ada tapi belum teridentifikasi. ……… ..) dan hampir luput dari pengamatan kita semua juga menjadi momentum untuk kita bertemu dan saling sharing pengalaman dan tentunya yang kuat membantu yang lemah dan yang lemah menyokong yang kuat…..atau bahkan mendoakan teman-teman yang telah lebih dulu mendahului kita…….. ……… tentunya !!!!.
Setelah kita-kita alumni saling melihat ke belakang sesuai kondisi faktual di atas dan alasan bahwa kita juga masih punya tanggungjawab moril untuk memberi input bagi pengembangan almamater kita (SMANSA) secara khusus dan pasti serta kemajuan pendidikan di SULSEL pada umumnya.
Bertitik tolak dari latar belakang mendasar di atas, maka berangkat dari kumpul-kumpul tidak resmi sesama alumni telah tercetus keinginan untuk merajuk kembali beberapa ide-ide cemerlang bagi pembangunan bangsa dan negara kita ke depan (…..ini sangat idealis tetapi kita memang udah harus menuju ke sana disamping tentunya urusan pribadi-keluarga tidak dapat dikesampingkan) .
Beberapa kelompok parsial mulai dari kelompok pengajian Brawijaya Jakarta (kediaman Bu Lisa JK) yang dihadiri diantara tentunya tuan rumah, Ira (Bua) Yunita AAL, Ari Rahim, Ani (IPS), Umar (IPA-pramuka) Mansyur & beberapa smansa 86 IPA & IPS (maaf nama-namanya sampai lupa), kemudian kelompok Adnan (IPA) Abubaeda yang sudah mulai mangkal dan buat kelompok2 di Pantai Losari (lupa nama kios tempat kumpul2nya) dan banyak lagi tentunya teman-teman seangkatan yang menginginkan tuk saling bersilaturrahim kembali.Kelompok Misfani (IPA) Muis, Indira (IPA) Jusuf, Erda (IPA) Santi, dllnya (maaf kelompok ibu2 darma wanita ini masih banyak lagi) yang bersama telah menghubungi M.Taufik (Ophi) Fachruddin dan disana ada Irwan (Gazonk) Idrus, Novandi (Ivan) Imam Santoso, Mashuri (Panin) Dahlan Gani tuk menyatukan kelompok2 yang telah terbentuk tersebut dlam rangka rencana Reuni.
Komunitas yang mulai terbentuk lewat sistem multiSMS dan lainnya telah berkembang seperti kesiapan ALimuddin Baso (CIbinong), St. Maisuri T.Chalid (Makassar), ALamsyah (Makassar), Haruna (Sungguminasa) , H. Arif (Pinrang), dan tentunya anda-anda yang lainnya diharapkan tuk meinginfokan kepada Kami tentunya.
Rencana awal menuju reuni akbar 86 akan dilakukan pertemuan awal tuk bentuk panitia sebelum Ramadhan atau setelah Idul Fithri dan untuk sementara direncanakan di Cafe Enak-Enak (Indira) di Lanto Dg.Pasewang. Sekian dulu berita awal dan mari kita lanjutkan bersama untuk merajuk komunitas tersebut.
Wassalam,
Bagian dari kelompok-kelompok komunitas di atas.
Untuk registrasi mohon kontak ke cell 081342111669 (Irwan Gazonk), 081343586577 (Adnan Abubaeda), 0811446190 (Erda Santi Hamzah), 08158789243 (Umar Mansyur), dll.

Agustus 20, 2008 at 4:26 pm Tinggalkan komentar

Diskriminasi beragama di SMANSA

Dikutip dari portal berita panyingkul.com

Budi yang Mendamba Toleransi Agama
:: Budi Parabang ::


Budi Parabang di tengah memegang Buku Nyanyian
dalam kebaktian di Gereja Advent Sudiang.
Foto: Andarias P.

Nama saya Budi Parabang, tapi teman-teman sering memanggil saya dengan sebutan Gendu’. Mungkin karena bentuk tubuh saya yang tergolong gendut. Saya adalah bungsu dari 3 bersaudara. Umur saya 16 tahun dan saat ini sedang menuntut ilmu di SMA Negeri 1 Makassar atau yang lebih dikenal dengan Smansa. Setelah berjuang selama setahun akhirnya saya bisa duduk di kelas IPA, tepatnya di kelas XI IPA 4. Saya adalah salah seorang penganut agama Kristen Advent, salah satu agama yang terdengar asing bagi teman-teman saya. Memang populasi kami di Indonesia tergolong sedikit, hanya sekitar 500 jiwa.. Tapi Kristen Advent bukanlah agama lokal melainkan universal atau mendunia.

Dalam Advent, banyak ajaran yang mungkin sedikit berbeda dengan agama Kristen yang lain, namun sebenarnya kami memiliki Alkitab yang sama. Yang membedakan adalah penafsirannya. Advent memiliki banyak larangan, seperti: merokok, minum minuman beralkohol, makan makanan haram(seperti anjing,babi dan sebagainya). Selain itu ada pula hal-hal yang dianjurkan seperti menjadi vegetarian, tidak memakai anting-anting bagi perempuan, serta tidak minum teh dan kopi, sebab berdasarkan hasil riset, dalam kopi terdapat kafein dan di dalam teh terdapat nikotin yang dapat membahayakan tubuh.

Para pemuka agama kami selalu menyeru-nyerukan akan hal ini sebab dalam kitab tertulis: “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu,maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu!”. Atas dasar itulah kami disarankan untuk merawat tubuh dari apapun yang dapat merusaknya. Tapi semuanya itu seolah-olah bukan lagi menjadi beban malah menjadi kebiasaan jika dijalankan dengan sungguh-sungguh. Mungkin sebagian orang akan berpikir betapa susahnya menjalani kehidupan seperti itu, tapi sebenarnya bagi saya pribadi itu bukan hal sulit, karena sejak kecil kami sudah terdidik dengan ajaran seperti itu.

Satu hal lagi yang menjadi ciri atau identitas Kristen Advent, yaitu kami beribadah pada hari Sabtu (ber-sabat), bukan hari minggu layaknya Kristen lain. Hari kebaktian kami dikenal dengan Sabat. Sabat terhitung mulai dari matahari tenggelam di hari Jumat sampai pada matahari tenggelam di hari Sabtu. Satu hari itu dikhususkan untuk Tuhan, tiada aktivitas lain kecuali yang berbau rohani. Jadi jika hari Sabat tiba, kami tidak dibenarkan untuk berbelanja, belajar (kecuali belajar dari alkitab), menonton, bahkan memasak. Makanya sebelum Sabat datang, keluarga kami selalu memasak makanan dalam porsi lebih.

Sungguh sebuah pemandangan yang cukup kontras dibandingkan dengan teman-teman lain yang setiap hari Sabtu pergi ke sekolah, bukannya ke tempat ibadah. Di Smansa sendiri,penganut agama Kristen Advent cuma 2 orang yang tidak lain saya dan kakak saya, Heri. Kakak saya sekarang duduk di bangku kelas XII dan sedang mempersiapkan diri menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN). Tapi sebetulnya sudah banyak alumni Smansa yang beragama Advent.

Sebelum menginjakkan kaki di Smansa, Heri sudah sangat sering bercerita kepada saya tentang keadaan di sekolah itu. Dan sebelum memutuskan mendaftar di Smansa, Heri berkata,“Tidak gampang untuk tetap eksis di Smansa dengan keadaan kita yang seperti ini, dibutuhkan kesabaran dan semangat yang tinggi dan semua keputusan ada di tanganmu. Kamu yang mengambil keputusan artinya kamu harus siap menghadapi segala konsekuensinya.” Dan omongan kakak saya benar-benar saya rasakan sekarang.

Saat memasuki bangku kelas X SMU, saya ditempatkan di kelas X-7. Sempat ada kesulitan memberitahu teman-teman tentang keadaan saya yang tidak bisa masuk sekolah setiap hari Sabtu karena harus mengikuti kebaktian di gereja. Awalnya ada beberapa dari mereka memandang sebelah mata keberadaan saya, bahkan tak jarang cerita miring yang mengatakan saya beragama aneh, fanatik, malah ada yang bilang: “Enaknya tidak belajar tiap hari Sabtu”, dan masih banyak lagi.

Suatu kali seorang pembimbing bertanya, “Memang sama sekali tidak boleh ke sekolah kah?” Lantas saya menjawab, “Ibadah itu bukan satu hal yang bisa ditunda-tunda Bu.”

Selang satu setengah bulan belajar, saya merasa teman-teman mulai menerima keberadaan saya, malah mereka selalu mendukung saya. Misalnya saja untuk pelajaran di hari Sabtu yang tidak saya ikuti, mereka dengan senang hati mau meminjamkan catatan, bahkan mengajari sampai mengerti. Di situlah saya merasa bahwa biarpun kami adalah kaum minoritas bukan berarti kami disisihkan oleh teman-teman. Tapi salah seorang teman kelas di kelas X-7 pernah berkomentar, “Setengah matimu itu tidak masuk kelas setiap hari Sabtu, apalagi kalau ada ulangan! Daripada susah-susah, lebih baik kamu pindah agama. Daripada banyak angka merahmu! Bagaimana?”

Namun menurut saya, toleransi tampaknya tak berlaku rata bagi setiap guru. Saya tidak tahu mengapa mereka seolah menutup mata. Dalam lingkungan sekolah, saya merasa kejelasan yang diberikan belum pasti sehingga membuat saya bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu harus berbuat apa. Atas dasar itu saya dan ayah mengurus surat izin dari pihak gereja untuk diberikan kepada Kepala Sekolah dan guru-guru yang mengajar di hari Sabtu.

Saat memberikan surat itu kepada Drs Herman Hading Mpd, kepala sekolah saya, ia berkomentar: “Saya pribadi mengizinkan tapi kamu harus bicara dengan guru-gurumu. Juga usahakan tugasmu masuk terus! Soal kehadiran, negosiasikan dengan guru-guru bidang studimu.”

Lantas saya pun menghubungi guru-guru saya satu persatu. Namun yang saya dapatkan dari mereka hanya komentar yang tidak jelas arahnya. Saya sungguh merasa stres saat itu apalagi ada mata pelajaran yang cuma ada di hari Sabtu, seperti Sejarah dan Kesenian. Akhirnya saya memutuskan melupakan itu semua dan membuat kebijakan sendiri dalam artian tidak memikirkan pelajaran di hari Sabtu.

Dan bisa ditebak apa yang terjadi, pada saat pembagian rapor di akhir semester 1, ada 2 mata pelajaran yang mendapat nilai merah. Ayah saya marah besar saat itu. Guru-guru saya memang mengizinkan saya beribadah tapi tidak memberikan solusi yang baik untuk nilai-nilai saya. Contohnya saja, saya pernah disuruh guru kesenian untuk memperbaiki nilai-nilai saya yang merah lantaran tugas-tugas saya tidak pernah masuk di hari Sabtu dengan membeli buku yang harganya lebih Rp200.000. Saya tidak tahu buku apa yang bisa semahal itu karena saya hanya disuruh menyetor uang dan guru saya sendiri yang membelinya. Tapi setelah nilai saya keluar di rapor, saya tetap saja mendapat nilai merah tepatnya 27.


Rapor pun merah di semester 1.
Foto: Budi Parabang.

Akhirnya di semester 2 saya mencoba memperbaiki kesalahan. Saya mulai menyetor tugas-tugas dan mulai aktif mencari guru saya. Namun sedikit susah menemui guru bidang studi yang mengajar di hari Sabtu untuk meminta tugas-tugas tambahan.Tapi akhirnya saya bisa melewati itu semua dan nilai saya membaik di saat penerimaan rapor di semester 2. Akhirnya saya bisa juga naik ke kelas XI dan masuk ke kelas IPA setelah melewati penjaringan yang ketat.

Tapi saya menemukan kendala baru di kelas XI ini. Masih ada seorang guru yang sama sekali tidak mau memberikan sedikit kelonggaran beribadah di hari Sabtu. Begitu mengetahui bahwa saya adalah seorang penganut Kristen Advent, guru itu pun memanggil saya dan berkata: “Jadi setiap hari Sabtu Anda tidak masuk dalam kelas saya? Wah, bagaimana itu? Kalau saya sendiri tidak bisa memberikan izin karena kehadiran Anda nanti akan sangat jauh di bawah standar kehadiran! Ini bukan sekolah agama, ini sekolah umum! Tapi nantilah saya bicarakan lagi dengan kepala sekolah.”

Saya pun hanya terdiam mendengar hal itu dan langsung kembali ke tempat duduk. Tapi di tempat duduk saya termenung dan berkata dalam hati: “Saya kira Indonesia adalah negara yang rakyatnya bebas memeluk agama dan beribadah sesuai agama yang dianutnya. Namun sekarang ini saya merasa hal itu tak berlaku terhadap saya. Saya merasa terdiskriminasikan.”Tapi saya terus berdoa di kamar saya agar suatu saat diberikan kelonggaran oleh guru tersebut.

Heri kakak saya yang duduk di kelas XII, sekarang sedang mengurus surat izinnya juga dan kami sama-sama berharap bahwa kami bisa terus belajar sambil menjalankan ibadah sesuai agama yang kami anut. Di sekolah ini saya mendapat banyak pelajaran hidup yang tidak pernah saya dapatkan di SD dan SMP dulu.Sewaktu SD, saya bersekolah di SD Advent begitupun SMP, saya bersekolah di SMP Advent yang bernaung di satu yayasan yang sama yaitu Yayasan Pendidikan Advent Durian Makassar. Letaknya juga masih dalam suatu kawasan yang sama. Dulu di sana, setiap Sabtu kami di liburkan. Ya jelaslah! Namanya juga sekolah Advent. Jadi saya dengan leluasa ke gereja dan beribadah bersama keluarga.

Hingga saat ini saya berharap guru-guru saya bisa membuat kebijakan yang berpihak pada kami. Kebijakan yang memberikan izin lebih mudah sehingga tidak usah mengurus surat izin tiap semester, bahkan setiap perubahan jadwal pelajaran hari Sabtu serta dapat memberikan solusi yang terbaik bagi nilai-nilai kami. Sehingga saya tidak lagi merasa tersisihkan. Meskipun kami kaum minoritas bukan berarti kami tidak punya hak yang sama layaknya siswa lain. (p!)

*Budi Parabang dapat dihubungi melalui email aldi_atarashi@yahoo.com

Divisi INFOKOM, IKASMANSA.

September 26, 2007 at 1:31 pm 4 komentar

Pos-pos Lebih Lama


TANGGALAN

Desember 2016
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

PENGUNJUNG

  • 44,540 hits

Musikku